Rabu, 10 Oktober 2012

'Tak Ada Peringatan' Sebelum Serangan ke Konsulat AS

 
WASHINGTON - Departemen Luar Negeri AS mengatakan mereka tidak memiliki informasi intelijen yang dapat menjadi peringatan atas serangan mematikan di Konsulat Amerika di Libya bulan lalu.

Serangan yang terjadi pada 11 September lalu di kota Benghazi yang menewaskan duta besar AS dan tiga orang diplomat AS lainnya, merupakan hal yang tidak terduga dalam sejarah diplomatik, kata seorang pejabat. Insiden itu sangat sensitif secara politik dan berlangsung hanya beberapa pekan sebelum pemilu AS.

Para pejabat Deplu tersebut dijadwalkan bersaksi di hadapan Kongres hari ini untuk membahas penanganan mereka atas serangan itu.

Wartawan BBC Kim Ghattas di Washington mengatakan pengarahan detail tampak menjadi upaya untuk mencegah kritik yang kemungkinan akan diterima Deplu dari panel. Sidang tersebut adalah bagian dari penyelidikan situasi keamanan di Benghazi menjelang serangan dan merupakan penyidikan publik pertama di Capitol Hill.

Deplu telah memulai penyelidikan internal atas peristiwa tersebut.  Duta besar AS di PBB, Susan Rice, menyebut serangan itu "spontan"yang terjadi pasca protes terhadap film anti Islam yang dibuat di AS.

Dua orang pejabat Deplu AS yang hari ini bersaksi di Kongres sebelumnya telah mengatakan bahwa Washington menolak permohonan keamanan tambahan. Salah seorang diantaranya, Eric Nordstorm, mengatakan dalam dokumen kepada komite Kongres bahwa seorang pejabat Deplu bernama Charlene Lamb, menginginkan agar kehadiran keamanan di Benghazi tetap "rendah."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar